Jumat, 16 November 2012

jangan ptus asa edisi friday

doa mu pasti terkabul bach:"""""" inspirasi dari doa nabi ibrahim  yang tak putus asa mendapatkan anak. kita saya jangan lah putus asa dan berdoa dengan kuat,,,,,,,hosshhhh

jumat

semangat banget, dari bang dadang. burjo keanngan di pleburan, masih hangat banget. 7000 perak klotak duit keluar

imam malik

Laa Adriy” (Saya TIDAK TAHU
“Dan janganlah kau berdiri (berbicara) pada sesuatu yang kau tidak ketahui” (QS Al-Isro 36)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/11/24142/lebih-pintarkah-kita-dari-imam-malik/#ixzz2CLJXrM7w

Kamis, 15 November 2012

otakku

browsing,,,mencari potensi di internet eh lupa harunya nyarinya kan di otak guehhhhhhh,,,harrrrhh

contoh kraetif


Josephus Primus Menurut Direktur ITs Buah Hamzah Parsaoran Sinaga, ide awal mendirikan usaha adalah memberi nilai tambah pada buah-buahan baik lokal maupun impor.
Foto:

KOMPAS.com — Di benak Hamzah Parsaoran Sinaga, buah adalah makanan sehat. Meski, ada juga orang yang tak suka makan buah lantaran rasanya yang tak enak. "Makanya, saya ingin memberi nilai tambah pada buah," kata Direktur IT's Buah ini, kemarin, di salah satu gerai tempat usahanya di Jalan Akses Perumahan Taman Galaxi, Kota Bekasi.
Hamzah meracik sekaligus mewujudkan ide tempat nongkrong yang menyajikan buah sebagai makanan sehat.
Perkenalan alumnus Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2001 ini dengan bisnis buah memang terbilang masih sebentar, sejak pertengahan 2010. Namun, perkenalannya dengan bisnis mulai dari berjualan pulsa, ponsel second, hingga pertanian sudah terjadi saat dia menjadi mahasiswa di Bandung.
Baginya kemudian, bisnis memasok buah-buahan ke gerai-gerai ritel besar macam Carrefour dan Superindo tidak ada nilai tambahnya, walau, dalam sebulan, Hamzah mampu menghasilkan omzet hingga Rp 400 juta. "Suplai buah cuma main di volume. Makanya, saya berpikir bagaimana cara menjual lebih kreatif," tutur penikmat hobi membaca dan bermain futsal ini.
Pengalaman Hamzah menunjukkan, sudah banyak toko buah tersebar di Jabodetabek. Ada yang skalanya besar. Ada juga yang skalanya kecil.
Ada yang pengelolaannya profesional pula. Sementara itu, masih ada pula yang pengelolaannya tradisional. "Saya ingin membuat skala minimarket, tapi profesional. Itu yang belum ada," kata pria kelahiran Samosir, Sumatera Utara, ini.
Pada bagian lain, masyarakat menengah perkotaan amat membutuhkan tempat berkumpul alias nongkrong. Kebetulan, saat ini, yang menyediakan tempat nongkrong adalah pengusaha dengan produk makanan cepat saji dan kopi. "Orang butuh suasananya saja. Tapi, yang menyajikan makanan sehat seperti buah belum ada," tutur mantan karyawan di bidang jaringan Telkomsel ini.
Maka dari itu, berbekal pengalaman tersebut, Hamzah meracik sekaligus mewujudkan ide tempat nongkrong yang menyajikan buah sebagai makanan sehat. "Kami hanya menjual buah," tuturnya.
Bar
Hamzah lebih lanjut menjelaskan gerai pertamanya dibuka di Apartemen Kalibata City, Jakarta Selatan, pada Februari 2012. Di situ, ia membidik konsumen penghuni apartemen. "Kebanyakan dari mereka berusia muda dan gaul," katanya.
Sementara itu, gerai di Perumahan Taman Galaxi yang baru diperkenalkan kepada publik pada Senin (12/11/2012) lebih menyasar konsumen yang tinggal di perumahan tapak tanah. "Saya membidik konsumen horizontal yang berbeda dengan konsumen vertikal di apartemen," terangnya.
Selanjutnya, Hamzah mengaku menggunakan istilah "bar" untuk gerainya walaupun paham kalau istilah itu berkonotasi sebagai tempat nongkrong yang komplet dengan minuman beralkohol, rokok, bahkan narkoba, berikut kehidupan yang nyaris lebih banyak tidak berada di bawah sinar matahari.
Sudah barang tentu, kata Hamzah, mengusung konsep bar untuk bisnisnya berarti bebas dari minuman beralkohol. Rokok pun tidak tersedia di tempat pajangan produk.
Kendati begitu, pria yang juga senang main catur itu memberikan toleransi kalau ada tamu yang merokok. Kebiasaan itu bisa dilakukan di gerainya yang memiliki teras terbuka alias beratapkan langit. "Kalau di gerai dalam ruangan, pasti konsumen tidak boleh merokok. Lagi pula, kami tidak menyediakan rokok," katanya.
Lalu, bar bagi Hamzah menjadi berbeda dengan istilah "kafe". Menurutnya, di bar orang hanya menikmati makanan tergolong ringan seperti jus buah, buah potong segar, sop buah, rujak, dan sebagainya. "Menurut saya, kalau di kafe, orang bisa makan besar," tambahnya.
Pada bagian berikutnya, Hamzah yang memilih berwirausaha sebagai bagian dari pengembangan energi kreatifnya itu memaparkan harus merogoh fulus di kisaran Rp 120 juta untuk gerai yang berbentuk rumah toko (ruko). Untuk gerai berbentuk kios, banderol anggarannya lebih ramping, di kisaran Rp 60 juta. "Itu semua belum termasuk ongkos sewa tempat," kata anak kedua dari enam bersaudara yang mematok target membuka sepuluh gerai di Jakarta Timur dan Bekasi hingga akhir tahun ini.
Salah satu tantangan dalam mengelola bisnis ini, menurut Hamzah yang lahir pada 30 Maret 1983, adalah mengatur masuk keluarnya pasokan berbagai jenis buah dengan volume lebih kecil. Ia membandingkan dengan saat bergelut dengan bisnis suplai buah sebelumnya.
Menurutnya, di bisnis pemasok buah, volume yang diatur terbilang besar hingga ukuran berat ton. "Tapi, jenis buahnya sedikit. Biasanya mangga saja atau pepaya saja," katanya.
Sebaliknya, pada bisnis saat ini, ada lebih banyak jenis buah. Namun, volumenya paling tinggi cuma sekitar 60 kilogram. "Harus diatur kapan membeli buah, menjaga buahnya, memilih yang busuk, dan sebagainya," ujarnya.
Hal lain yang masih menjadi pekerjaan rumah pengagum konglomerat Chairul Tanjung ini adalah membuat inovasi di segi pengolahan produk menjadi menu-menu terbaru. Termasuk di sini, ia secara bertahap memperkenalkan usaha di dunia media sosial semacam Facebook dan Twitter. 
 
 

ical

Bisnis Masa Depan Versi Aburizal Bakrie

TEMPO.CO, Bandung - Di depan peserta Sekolah Pengusaha Muda yang digelar Keluarga Mahasiwa Institut Teknologi Bandung, pengusaha sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menyarankan para pengusaha muda terjun di bisnis energi, pangan, dan air. Krisis di tiga sektor itu pasti akan terus berlanjut. ”Kalau menjalankan bisnis (di situ), chance untuk maju akan besar,” kata Aburizal di sela ceramahnya di Bandung, Jawa Barat, Sabtu, 15 Oktober 2011.

Dia menceritakan pengalamannya saat memulihkan kerajaan bisnisnya usai krisis ekonomi 1998 lalu. Saat krisis itu Aburizal mengaku kondisinya lebih miskin dari pengemis. Dia harus menegosiasikan soal utang kelompok usahanya dengan 220 bank di seluruh dunia. ”You name it,” kata Ical. ”Semua orang menganggap saya orang hina.”

Saat kondisi diuber utang dan saham perusahaan peninggalan orang tuanya tinggal tersisa 2,5 persennya, Ical memutuskan mencari ceruk bisnis lain. Selepas berdiskusi dengan adiknya, Nirwan Bakrie, timbul idenya untuk mengambil bisnis energi mengingat krisisnya pasti akan terus terjadi. ”Kami pilih batu bara,” kata Ical.

Bumi Moderen, cikal-bakal Bumi Resources, dibelinya senilai US$ 187 juta. Saat membeli Bumi, Ical mengaku hanya bermodal ”namanya” serta serangkaian restrukturisasi saham perusahaannya yang tersisa. ”Akhirnya kami dapat kredit dan kami masuk ke perusahaan Bumi,” kata Ical.

Menyusul kemudian membeli Kaltim Prima Coal senilai US$ 700 juta dengan menggaet sejumlah investor. Ical mengaku dengan terjun ke bisnis batu bara itu bisa membayar utang kelompok bisnisnya yang totalnya sekitar Rp 3 triliun pada Maret 2004 lalu. ”Saya bisa bayar cash Rp 3 triliun, tidak ada seorang pun konglomerat yang bayar 100 persen, hanya Bakrie yang bayar (cash),” kata dia.

Ical mengatakan, untuk calon pengusaha, penting bisa melihat tren dunia. ”Kami masuk ke dalam tren itu,” kata dia lagi. ”Pasti menguntungkan.”

Untuk konteks Indonesia, menurutnya, pertumbuhan perekonomian Indonesia ditopang pengusaha kecil. Tapi, katanya, pertumbuhan itu hanya dinikmati oleh sebagian kecil bangsa Indonesia. ”Yang besar seperti saya menikmati, ya, tapi yang di bawah itu hidup dengan berkecukupan, di bawah kecukupan, kami harus ubah,” kata Ical.

Pemerintah diminta tetap melakukan intervensi di antaranya lewat program penanggulangan kemiskinan, permodalan, serta pendidikan kewirausahaan. Kredit, misalnya, harus dipermudah. ”Jaminan boleh, tapi bukan jaminan tambahan. Artinya bila dari kredit ini mau beli gerobak baso, gerobak baso itu dijaminkan, kuncinya itu justru ada pada fungsingnya,” kata Ical.

Kunci selanjutnya, katanya, ada pada pendidikan bagi para pengusaha mikro kecil. ”Kita belum melihat pendidikan itu yang dilaksanakan oleh pemerintah, itu penting,” kata Ical.

Rektor ITB Akhmaloka mengatakan program sekolah pengusaha muda itu bukan sekolah formal. ”Ini aktivitas Keluarga Mahasiswa ITB,” kata dia.

Pihak perguruan tinggi, katanya, ikut memfasilitasinya. ”Sebagian pendanaannya dari Kementerian Pendidikan Nasional lewat kami untuk menumbuhkan wirausaha baru,” kata Akhmaloka.

boleh kan.,.,,

aneh dapat uang 200 ribu,,sudah mimipi mahar buat calon 20 ekor kambing, trus jadi pengusaha,,......he boleh kan