Bisnis Masa Depan Versi Aburizal Bakrie
Dia menceritakan pengalamannya saat memulihkan kerajaan bisnisnya usai krisis ekonomi 1998 lalu. Saat krisis itu Aburizal mengaku kondisinya lebih miskin dari pengemis. Dia harus menegosiasikan soal utang kelompok usahanya dengan 220 bank di seluruh dunia. ”You name it,” kata Ical. ”Semua orang menganggap saya orang hina.”
Saat kondisi diuber utang dan saham perusahaan peninggalan orang tuanya tinggal tersisa 2,5 persennya, Ical memutuskan mencari ceruk bisnis lain. Selepas berdiskusi dengan adiknya, Nirwan Bakrie, timbul idenya untuk mengambil bisnis energi mengingat krisisnya pasti akan terus terjadi. ”Kami pilih batu bara,” kata Ical.
Bumi Moderen, cikal-bakal Bumi Resources, dibelinya senilai US$ 187 juta. Saat membeli Bumi, Ical mengaku hanya bermodal ”namanya” serta serangkaian restrukturisasi saham perusahaannya yang tersisa. ”Akhirnya kami dapat kredit dan kami masuk ke perusahaan Bumi,” kata Ical.
Menyusul kemudian membeli Kaltim Prima Coal senilai US$ 700 juta dengan menggaet sejumlah investor. Ical mengaku dengan terjun ke bisnis batu bara itu bisa membayar utang kelompok bisnisnya yang totalnya sekitar Rp 3 triliun pada Maret 2004 lalu. ”Saya bisa bayar cash Rp 3 triliun, tidak ada seorang pun konglomerat yang bayar 100 persen, hanya Bakrie yang bayar (cash),” kata dia.
Ical mengatakan, untuk calon pengusaha, penting bisa melihat tren dunia. ”Kami masuk ke dalam tren itu,” kata dia lagi. ”Pasti menguntungkan.”
Untuk konteks Indonesia, menurutnya, pertumbuhan perekonomian Indonesia ditopang pengusaha kecil. Tapi, katanya, pertumbuhan itu hanya dinikmati oleh sebagian kecil bangsa Indonesia. ”Yang besar seperti saya menikmati, ya, tapi yang di bawah itu hidup dengan berkecukupan, di bawah kecukupan, kami harus ubah,” kata Ical.
Pemerintah diminta tetap melakukan intervensi di antaranya lewat program penanggulangan kemiskinan, permodalan, serta pendidikan kewirausahaan. Kredit, misalnya, harus dipermudah. ”Jaminan boleh, tapi bukan jaminan tambahan. Artinya bila dari kredit ini mau beli gerobak baso, gerobak baso itu dijaminkan, kuncinya itu justru ada pada fungsingnya,” kata Ical.
Kunci selanjutnya, katanya, ada pada pendidikan bagi para pengusaha mikro kecil. ”Kita belum melihat pendidikan itu yang dilaksanakan oleh pemerintah, itu penting,” kata Ical.
Rektor ITB Akhmaloka mengatakan program sekolah pengusaha muda itu bukan sekolah formal. ”Ini aktivitas Keluarga Mahasiswa ITB,” kata dia.
Pihak perguruan tinggi, katanya, ikut memfasilitasinya. ”Sebagian pendanaannya dari Kementerian Pendidikan Nasional lewat kami untuk menumbuhkan wirausaha baru,” kata Akhmaloka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar