Josephus Primus
Menurut Direktur ITs Buah Hamzah Parsaoran Sinaga, ide awal
mendirikan usaha adalah memberi nilai tambah pada buah-buahan baik lokal
maupun impor.
Foto:
KOMPAS.com — Di benak Hamzah Parsaoran Sinaga, buah adalah makanan sehat. Meski, ada juga orang yang tak suka
makan
buah lantaran rasanya yang tak enak. "Makanya, saya ingin memberi nilai
tambah pada buah," kata Direktur IT's Buah ini, kemarin, di salah satu
gerai tempat usahanya di Jalan Akses Perumahan Taman Galaxi, Kota
Bekasi.
Hamzah meracik sekaligus mewujudkan ide tempat nongkrong yang menyajikan buah sebagai makanan sehat.
Perkenalan alumnus Teknik Elektro Institut
Teknologi Bandung (ITB) angkatan 2001 ini dengan bisnis buah memang
terbilang masih sebentar, sejak pertengahan 2010. Namun, perkenalannya
dengan bisnis mulai dari berjualan pulsa, ponsel second, hingga pertanian sudah terjadi saat dia menjadi mahasiswa di Bandung.
Baginya
kemudian, bisnis memasok buah-buahan ke gerai-gerai ritel besar macam
Carrefour dan Superindo tidak ada nilai tambahnya, walau, dalam sebulan,
Hamzah mampu menghasilkan omzet hingga Rp 400 juta. "Suplai buah cuma
main di volume. Makanya, saya berpikir bagaimana cara menjual lebih
kreatif," tutur penikmat hobi membaca dan bermain futsal ini.
Pengalaman
Hamzah menunjukkan, sudah banyak toko buah tersebar di Jabodetabek. Ada
yang skalanya besar. Ada juga yang skalanya kecil.
Ada yang
pengelolaannya profesional pula. Sementara itu, masih ada pula yang
pengelolaannya tradisional. "Saya ingin membuat skala minimarket, tapi
profesional. Itu yang belum ada," kata pria kelahiran Samosir, Sumatera
Utara, ini.
Pada bagian lain, masyarakat menengah perkotaan amat membutuhkan tempat berkumpul alias nongkrong. Kebetulan, saat ini, yang menyediakan tempat nongkrong
adalah pengusaha dengan produk makanan cepat saji dan kopi. "Orang
butuh suasananya saja. Tapi, yang menyajikan makanan sehat seperti buah
belum ada," tutur mantan karyawan di bidang jaringan Telkomsel ini.
Maka
dari itu, berbekal pengalaman tersebut, Hamzah meracik sekaligus
mewujudkan ide tempat nongkrong yang menyajikan buah sebagai makanan
sehat. "Kami hanya menjual buah," tuturnya.
Bar
Hamzah
lebih lanjut menjelaskan gerai pertamanya dibuka di Apartemen Kalibata
City, Jakarta Selatan, pada Februari 2012. Di situ, ia membidik konsumen
penghuni apartemen. "Kebanyakan dari mereka berusia muda dan gaul,"
katanya.
Sementara itu, gerai di Perumahan Taman Galaxi yang baru
diperkenalkan kepada publik pada Senin (12/11/2012) lebih menyasar
konsumen yang tinggal di perumahan tapak tanah. "Saya membidik konsumen
horizontal yang berbeda dengan konsumen vertikal di apartemen,"
terangnya.
Selanjutnya, Hamzah mengaku menggunakan istilah "bar"
untuk gerainya walaupun paham kalau istilah itu berkonotasi sebagai
tempat nongkrong yang komplet dengan minuman beralkohol, rokok, bahkan
narkoba, berikut kehidupan yang nyaris lebih banyak tidak berada di
bawah sinar matahari.
Sudah barang tentu, kata Hamzah, mengusung
konsep bar untuk bisnisnya berarti bebas dari minuman beralkohol. Rokok
pun tidak tersedia di tempat pajangan produk.
Kendati begitu, pria
yang juga senang main catur itu memberikan toleransi kalau ada tamu
yang merokok. Kebiasaan itu bisa dilakukan di gerainya yang memiliki
teras terbuka alias beratapkan langit. "Kalau di gerai dalam ruangan,
pasti konsumen tidak boleh merokok. Lagi pula, kami tidak menyediakan
rokok," katanya.
Lalu, bar bagi Hamzah menjadi berbeda dengan
istilah "kafe". Menurutnya, di bar orang hanya menikmati makanan
tergolong ringan seperti jus buah, buah potong segar, sop buah, rujak,
dan sebagainya. "Menurut saya, kalau di kafe, orang bisa makan besar,"
tambahnya.
Pada bagian berikutnya, Hamzah yang memilih
berwirausaha sebagai bagian dari pengembangan energi kreatifnya itu
memaparkan harus merogoh fulus di kisaran Rp 120 juta untuk gerai yang
berbentuk rumah toko (ruko). Untuk gerai berbentuk kios, banderol
anggarannya lebih ramping, di kisaran Rp 60 juta. "Itu semua belum
termasuk ongkos sewa tempat," kata anak kedua dari enam bersaudara yang
mematok target membuka sepuluh gerai di Jakarta Timur dan Bekasi hingga
akhir tahun ini.
Salah satu tantangan dalam mengelola bisnis ini,
menurut Hamzah yang lahir pada 30 Maret 1983, adalah mengatur masuk
keluarnya pasokan berbagai jenis buah dengan volume lebih kecil. Ia
membandingkan dengan saat bergelut dengan bisnis suplai buah sebelumnya.
Menurutnya,
di bisnis pemasok buah, volume yang diatur terbilang besar hingga
ukuran berat ton. "Tapi, jenis buahnya sedikit. Biasanya mangga saja
atau pepaya saja," katanya.
Sebaliknya, pada bisnis saat ini, ada
lebih banyak jenis buah. Namun, volumenya paling tinggi cuma sekitar 60
kilogram. "Harus diatur kapan membeli buah, menjaga buahnya, memilih
yang busuk, dan sebagainya," ujarnya.
Hal lain yang masih menjadi
pekerjaan rumah pengagum konglomerat Chairul Tanjung ini adalah membuat
inovasi di segi pengolahan produk menjadi menu-menu terbaru. Termasuk di
sini, ia secara bertahap memperkenalkan usaha di dunia media sosial
semacam Facebook dan Twitter.