Selasa, 12 April 2011

taujih

semua ada muara.,,,setelah hulu dan hilir,,,,,,,butuh , kehati hatian perlu untuk melangkah agar kita tak hanyut dalam lingkaran setan

Senin, 11 April 2011

ukhwan hrd,,,sms sms hrd 09

hidup manusia seperti buku sampul depan adalah tanggal lahir
sampul belakang adalah pulang,,
tiap lembar adalah hari hari dalam hidup kita..
ada buku yang tebal ada buku yang tipis.elalu

,,Hebatnya,,,,selalu tersedia halaman selanjutnyayang bersih ,,baru,,,dan tidak cacat
sama dengan  hidup seburuk apapun  kemaren
Allah selalu menyediakan hari baru bagi kita untuk bisa melakukan hal yang baik,,,,
untuk memperbaiki kesalahan..melanjutkan ceritanya yang sudah ditetapkan NYA...

Sabtu, 09 April 2011

Senin, 14 Februari 2011

iseng iseng

Perempuan Tak Pernah Bisa Melupakan Mantannya?


KOMPAS.com - Situs jejaring sosial saat ini menyebabkan orang dengan mudah melacak atau mencari informasi mengenai teman lama atau mantan kekasih. Yang terakhir ini, terutama dilakukan oleh orang yang sebenarnya belum mampu melupakan mantannya. Ia selalu ingin tahu apa yang sedang terjadi pada mantan kekasihnya, bahkan jika status "In Relationship" itu malah membuatnya loyo.

Kalau sudah begini, tentu makin sulit untuk melupakan mantan kekasih. Tanpa jejaring sosial pun, dunia seringkali terasa begitu sempit. Anda bisa saja bertemu dengan bekas teman kuliahnya, atau tetangganya, atau bahkan kakak-adiknya, yang membuat Anda langsung teringat pada si mantan.

Dalam kenyataannya, polling yang dilakukan situs YourTango terhadap lebih dari 1.000 orang dari 22 Desember 2010 hingga 5 Januari 2011, menunjukkan fakta bahwa orang memang selalu terikat dengan mantan kekasihnya. Obsesi ini kerapkali memengaruhi diri mereka, baik yang masih lajang, maupun yang sudah menikah.

Hasil jajak pendapat ini cukup mengejutkan sebagian orang, mungkin Anda salah satunya.
* 71 persen orang mengatakan bahwa mereka terlalu memikirkan mantannya. Jika responden dipersempit menjadi para lajang, angkanya naik menjadi 81 persen.
* Lebih dari separuh (57 persen) lajang mengatakan bahwa memikirkan mantan bisa mencegah mereka menemukan kekasih baru.
* Hampir dua pertiga orang yang menikah (60 persen) mengakui bahwa mereka terlalu sering memikirkan mantan, dan 37 persennya mengatakan keterikatan mereka pada mantan bisa mengacaukan perkawinannya.

Bukan hanya kaum perempuan yang sulit melupakan mantan (Jennifer Aniston dan Jessica Simpson disebut-sebut sebagai contohnya), tetapi juga kaum pria.
* 74 persen perempuan dan 64 persen laki-laki mengaku terlalu sering memikirkan mantannya.
* 76 persen perempuan dan 70 persen laki-laki pernah melacak keberadaan mantannya lewat internet.
* 50 persen perempuan dan 40 persen laki-laki mengaku melongok profil mantannya di Facebook atau jejaring sosial lain.

Sulitnya orang melupakan mantannya ini tampaknya disebabkan oleh ketidakinginan untuk benar-benar putus hubungan dengan si mantan. Terbukti, 59 persen orang tetap berteman dengan mantannya di Facebook setelah putus, dan 48 persen (42 persen di antaranya menikah) mengakui terlalu sering mengecek mantannya lewat Facebook atau jejaring sosial lain.

Sebanyak 86 persen responden mengaku memandangi foto-foto mantannya, bahkan 14 persen dari mereka yang sudah menikah mengaku sering sekali melakukannya. Tak hanya itu, 50 persen orang menelepon, mengirim SMS, e-mail, atau meng-instant messaging mantan kekasihnya, meskipun tahu mereka tak seharusnya begitu. Nah, kalau dorongan untuk mencari tahu itu tak pernah dihentikan, bagaimana bisa melupakannya?

DIN

Editor: Dini

Sumber: Your Tango

sampel banyak

Semakin besar sampel yg diambil akan semakin representatif dari populasi dan hasil penelitian lbh dapat digeneralisasikan. Masalah besar sampel merupakan hal yg sulit utk dijawab sebab terkadang dipengaruhi oleh dana yg tersedia utk melakukan penelitian. Namun demikian hal yg penting utk diperhatikan adl terdapat alasan yg logis utk pemilihan teknik sampling serta besar sampel dilihat dari sudut metodologi Penelitian.

Dilihat dari substansi tujuan penarikan sampel yakni utk memperoleh representasi populasi yg tepat maka besar sampel yg akan diambil perlu mempertimbangkan karakteristik populasi serta kemampuan estimasi. Pertimbangan karakteristik populasi akan menentukan teknik pengambilan sampel ini dimaksudkan utk mengurangi atau menghilangkan bias sementara kemampuan estimasi berkaitan dgn presisi dalam mengestimasi populasi dari sampel serta bagaimana sampel dapat digeneralisasikan atas populasi upaya utk mencapai presisi yg lbh baik memerlukan penambahan sampel seberapa besar sampel serta penambahan akan tergantung pada variasi dalam kelompok tingkat kesalahan yg ditoleransi serta tingkat kepercayaan.

Menurut Pamela L. Alreck dan Robert B. Seetle dalam buku The Survey Research Handbook utk Populasi yg besar sampel minimum kira-kira 100 responden dan sampel maksimum adl 1000 responden atau 10% dgn kisaran angka minimum dan maksimum.

Secara lbh rinci Jack E. Fraenkel dan Norman E. Wallen menyatakan bahwa minimum sampel adl 100 utk studi deskriptif 50 utk studi korelasional 30 per kelompok utk studi kausal komparatif. L.R Gay dalam buku Educational Research menyatakan bahwa utk riset deskriptif besar sampel 10% dari populasi riset korelasi 30 subjek riset kausal komparatif 30 subjek per kelompok dan riset eksperimental 50 subjek per kelompok. Sementara itu Krejcie dan Morgan menyusun ukuran besar sampel dalam bentuk tabel sebagai berikut :

trauma , pernakah anda mendengarnya? Kemudian bagaimana cara mengatasi dan menghilangkan trauma? Pada waktu sekarang ini, banyak berita yang memuat tentang kejahatan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan lain-lain. Tentu sangat memperhatinkan, belum lagi konflik dan peledakan bom diberbagai tempat.

Mungkin esok hari berita sudah berganti dengan yang lain. Namun ada satu hal yang terlupakan, yakni efek dari kejadian tersebut. Lalu apa efek itu, efek itu adalah berupa trauma. Pada daerah pengungsian akibat konflik misalnya, bukan berarti begitu anak-anak atau wanita diungsikan lalu masalah selesai. Justru suatu masalah mungkin sedang dimulai.

Jika berbicara tentang tindak kekerasan dan trauma, ada suatu istilah yang dikenal sebagai Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD (gangguan stres pasca trauma). Yaitu gangguan stres yang timbul berkaitan dengan peristiwa traumatis luar biasa. Misalnya, melihat orang dibunuh, disiksa secara sadis, korban kecelakaan, bencana alam, dan lain-lain.

PTSD merupakan gangguan kejiwaan yang sangat berat, karena biasanya penderita mengalami gangguan jiwa yang mengganggu kehidupannya. Secara umum gejala PTSD dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

Pertama, Reexperiencing. Perderita seperti mengalami kembali kejadian traumatis yang pernah dialami. Biasanya kondisi ini akan muncul ketika penderita sedang melamun atau melihat suasana yang mirip dengan pengalaman traumatisnya. Penderita dapat berperilaku mengejutkan, tiba-tiba berteriak, menangis, atau berlari ketakutan.

Fenomena lain juga dapat muncul seperti takut untuk tidur, karena begitu ia tidur peristiwa traumatis muncul kembali. Misalnya, peristiwa diperkosa atau pembunuhan yang berlangsung didepan mata.

Kedua, Hyperarousal. Suatu keadaan waspada berlebihan, seperti mudah kaget, tegang, curiga menghadapi gejala sesuatu, benda yang jatuh dia anggap seperti jatuhnya sebuah bom, dan tidur sering terbangun-bangun.

Ketiga, Avoidance. Seseorang akan selalu menghindari situasi yang mengingatkan ia pada kejadian traumatis. Seandainya kejadiannya saat suasana ramai, dia akan menghindari mall atau pasar. Begitu juga sebaliknya jika ia mengalami pada waktu sendiri, maka ia akan menghidari tempat-tempat sepi.

Jika PSTD tidak ditanganidengan benar, maka mempengaruhi kepribadian seseorang (perubahan kepribadian). Seperti paranoid (mudah curiga) misalnya. Kesulitan hal ini adalah jarang sekali penderita dengan kesadaranya datang ke para ahli. Apalagi stigma yang beredar dimasyarakat bahwa psikiater identik dengan orang sakit jiwa atau gila.

Lalu bagaimana cara mengatasi dan menghilangkan masalah trauma? Berbagai model psikoterapi telah dikembangakan untuk mengatasi PTSD, seperti, terapi perilaku, desensitisasi, hipnoterapi, semuanya cukup efektif asal penderita juga mendapatkan dukungan dari masyarakat lingkunganya dan juga orang terdekatnya.

Perlu untuk dibedakan, apakah seseorang sudah mengarah pada PTSD atau masih PTS (post traumatic sympton). Kalaupun masih PTS tidak akan sampai menimbulkan gangguan berat, masih dapat ditangani oleh psikolog yang terlatih. Yang perlu dilakukan adalah jangan sampai PTS menjadi PTSD.