Sabtu, 09 April 2011

Senin, 14 Februari 2011

iseng iseng

Perempuan Tak Pernah Bisa Melupakan Mantannya?


KOMPAS.com - Situs jejaring sosial saat ini menyebabkan orang dengan mudah melacak atau mencari informasi mengenai teman lama atau mantan kekasih. Yang terakhir ini, terutama dilakukan oleh orang yang sebenarnya belum mampu melupakan mantannya. Ia selalu ingin tahu apa yang sedang terjadi pada mantan kekasihnya, bahkan jika status "In Relationship" itu malah membuatnya loyo.

Kalau sudah begini, tentu makin sulit untuk melupakan mantan kekasih. Tanpa jejaring sosial pun, dunia seringkali terasa begitu sempit. Anda bisa saja bertemu dengan bekas teman kuliahnya, atau tetangganya, atau bahkan kakak-adiknya, yang membuat Anda langsung teringat pada si mantan.

Dalam kenyataannya, polling yang dilakukan situs YourTango terhadap lebih dari 1.000 orang dari 22 Desember 2010 hingga 5 Januari 2011, menunjukkan fakta bahwa orang memang selalu terikat dengan mantan kekasihnya. Obsesi ini kerapkali memengaruhi diri mereka, baik yang masih lajang, maupun yang sudah menikah.

Hasil jajak pendapat ini cukup mengejutkan sebagian orang, mungkin Anda salah satunya.
* 71 persen orang mengatakan bahwa mereka terlalu memikirkan mantannya. Jika responden dipersempit menjadi para lajang, angkanya naik menjadi 81 persen.
* Lebih dari separuh (57 persen) lajang mengatakan bahwa memikirkan mantan bisa mencegah mereka menemukan kekasih baru.
* Hampir dua pertiga orang yang menikah (60 persen) mengakui bahwa mereka terlalu sering memikirkan mantan, dan 37 persennya mengatakan keterikatan mereka pada mantan bisa mengacaukan perkawinannya.

Bukan hanya kaum perempuan yang sulit melupakan mantan (Jennifer Aniston dan Jessica Simpson disebut-sebut sebagai contohnya), tetapi juga kaum pria.
* 74 persen perempuan dan 64 persen laki-laki mengaku terlalu sering memikirkan mantannya.
* 76 persen perempuan dan 70 persen laki-laki pernah melacak keberadaan mantannya lewat internet.
* 50 persen perempuan dan 40 persen laki-laki mengaku melongok profil mantannya di Facebook atau jejaring sosial lain.

Sulitnya orang melupakan mantannya ini tampaknya disebabkan oleh ketidakinginan untuk benar-benar putus hubungan dengan si mantan. Terbukti, 59 persen orang tetap berteman dengan mantannya di Facebook setelah putus, dan 48 persen (42 persen di antaranya menikah) mengakui terlalu sering mengecek mantannya lewat Facebook atau jejaring sosial lain.

Sebanyak 86 persen responden mengaku memandangi foto-foto mantannya, bahkan 14 persen dari mereka yang sudah menikah mengaku sering sekali melakukannya. Tak hanya itu, 50 persen orang menelepon, mengirim SMS, e-mail, atau meng-instant messaging mantan kekasihnya, meskipun tahu mereka tak seharusnya begitu. Nah, kalau dorongan untuk mencari tahu itu tak pernah dihentikan, bagaimana bisa melupakannya?

DIN

Editor: Dini

Sumber: Your Tango

sampel banyak

Semakin besar sampel yg diambil akan semakin representatif dari populasi dan hasil penelitian lbh dapat digeneralisasikan. Masalah besar sampel merupakan hal yg sulit utk dijawab sebab terkadang dipengaruhi oleh dana yg tersedia utk melakukan penelitian. Namun demikian hal yg penting utk diperhatikan adl terdapat alasan yg logis utk pemilihan teknik sampling serta besar sampel dilihat dari sudut metodologi Penelitian.

Dilihat dari substansi tujuan penarikan sampel yakni utk memperoleh representasi populasi yg tepat maka besar sampel yg akan diambil perlu mempertimbangkan karakteristik populasi serta kemampuan estimasi. Pertimbangan karakteristik populasi akan menentukan teknik pengambilan sampel ini dimaksudkan utk mengurangi atau menghilangkan bias sementara kemampuan estimasi berkaitan dgn presisi dalam mengestimasi populasi dari sampel serta bagaimana sampel dapat digeneralisasikan atas populasi upaya utk mencapai presisi yg lbh baik memerlukan penambahan sampel seberapa besar sampel serta penambahan akan tergantung pada variasi dalam kelompok tingkat kesalahan yg ditoleransi serta tingkat kepercayaan.

Menurut Pamela L. Alreck dan Robert B. Seetle dalam buku The Survey Research Handbook utk Populasi yg besar sampel minimum kira-kira 100 responden dan sampel maksimum adl 1000 responden atau 10% dgn kisaran angka minimum dan maksimum.

Secara lbh rinci Jack E. Fraenkel dan Norman E. Wallen menyatakan bahwa minimum sampel adl 100 utk studi deskriptif 50 utk studi korelasional 30 per kelompok utk studi kausal komparatif. L.R Gay dalam buku Educational Research menyatakan bahwa utk riset deskriptif besar sampel 10% dari populasi riset korelasi 30 subjek riset kausal komparatif 30 subjek per kelompok dan riset eksperimental 50 subjek per kelompok. Sementara itu Krejcie dan Morgan menyusun ukuran besar sampel dalam bentuk tabel sebagai berikut :

trauma , pernakah anda mendengarnya? Kemudian bagaimana cara mengatasi dan menghilangkan trauma? Pada waktu sekarang ini, banyak berita yang memuat tentang kejahatan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan, dan lain-lain. Tentu sangat memperhatinkan, belum lagi konflik dan peledakan bom diberbagai tempat.

Mungkin esok hari berita sudah berganti dengan yang lain. Namun ada satu hal yang terlupakan, yakni efek dari kejadian tersebut. Lalu apa efek itu, efek itu adalah berupa trauma. Pada daerah pengungsian akibat konflik misalnya, bukan berarti begitu anak-anak atau wanita diungsikan lalu masalah selesai. Justru suatu masalah mungkin sedang dimulai.

Jika berbicara tentang tindak kekerasan dan trauma, ada suatu istilah yang dikenal sebagai Post Traumatic Stress Disorder atau PTSD (gangguan stres pasca trauma). Yaitu gangguan stres yang timbul berkaitan dengan peristiwa traumatis luar biasa. Misalnya, melihat orang dibunuh, disiksa secara sadis, korban kecelakaan, bencana alam, dan lain-lain.

PTSD merupakan gangguan kejiwaan yang sangat berat, karena biasanya penderita mengalami gangguan jiwa yang mengganggu kehidupannya. Secara umum gejala PTSD dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

Pertama, Reexperiencing. Perderita seperti mengalami kembali kejadian traumatis yang pernah dialami. Biasanya kondisi ini akan muncul ketika penderita sedang melamun atau melihat suasana yang mirip dengan pengalaman traumatisnya. Penderita dapat berperilaku mengejutkan, tiba-tiba berteriak, menangis, atau berlari ketakutan.

Fenomena lain juga dapat muncul seperti takut untuk tidur, karena begitu ia tidur peristiwa traumatis muncul kembali. Misalnya, peristiwa diperkosa atau pembunuhan yang berlangsung didepan mata.

Kedua, Hyperarousal. Suatu keadaan waspada berlebihan, seperti mudah kaget, tegang, curiga menghadapi gejala sesuatu, benda yang jatuh dia anggap seperti jatuhnya sebuah bom, dan tidur sering terbangun-bangun.

Ketiga, Avoidance. Seseorang akan selalu menghindari situasi yang mengingatkan ia pada kejadian traumatis. Seandainya kejadiannya saat suasana ramai, dia akan menghindari mall atau pasar. Begitu juga sebaliknya jika ia mengalami pada waktu sendiri, maka ia akan menghidari tempat-tempat sepi.

Jika PSTD tidak ditanganidengan benar, maka mempengaruhi kepribadian seseorang (perubahan kepribadian). Seperti paranoid (mudah curiga) misalnya. Kesulitan hal ini adalah jarang sekali penderita dengan kesadaranya datang ke para ahli. Apalagi stigma yang beredar dimasyarakat bahwa psikiater identik dengan orang sakit jiwa atau gila.

Lalu bagaimana cara mengatasi dan menghilangkan masalah trauma? Berbagai model psikoterapi telah dikembangakan untuk mengatasi PTSD, seperti, terapi perilaku, desensitisasi, hipnoterapi, semuanya cukup efektif asal penderita juga mendapatkan dukungan dari masyarakat lingkunganya dan juga orang terdekatnya.

Perlu untuk dibedakan, apakah seseorang sudah mengarah pada PTSD atau masih PTS (post traumatic sympton). Kalaupun masih PTS tidak akan sampai menimbulkan gangguan berat, masih dapat ditangani oleh psikolog yang terlatih. Yang perlu dilakukan adalah jangan sampai PTS menjadi PTSD.

Senin, 31 Januari 2011

34 halaman lain











2 menit yang lalu



Bachtiar Rivai
tomorrow we will so you: tabloid kita
bachtiyar.blogspot.com


2 menit yang lalu · Suka · Komentari · Bagikan




Ujee Ujianti
jika kau mncari kebahagiaan, maka itu ada pada orang lain, namun jika kau ingin mensyukuri kebahagiaan, maka itu ada pada dirimu...^_^ smangat!
4 menit yang lalu · Suka · Komentari
Fettrix Eka Pradibtya menyukai ini.






Slamet Riyadi
mendapat konsul rumah tangga sampai menitipkan anak anaknya jika ada apa apa....subhanallah Engkau Pengatur Hidup dan Kehidupan Hidupkanlah senantiasa istiqomah dijalan MU
4 menit yang lalu · Suka · Komentari
Sri Almiyati menyukai ini.






Gafur Nugroho
Ya Allah, perbaikilah agamaku karena ia merupakan pangkal urusanku, perbaikilah duniaku karena ia merupakan penghidupanku, perbaikilah akhiratku karena ia merupakan tempat kembaliku, dan jadikanlah hidup sebagai kesempatan untuk menambah setiap kebaikanku, dan jadikanlah mati sebagai pelepas diriku dari setiap kejahatan.
(HR. Muslim)5 menit yang lalu melalui Web Seluler · Suka · Komentari




Sri Suroto
Jangan merasa Lemah, Sedih ataupun putus Asa, Buatlah hidup ini Bahagia karna kita bersyukur...
10 menit yang lalu · Suka · Komentari
Tina Hikmah menyukai ini.






Retno Pkpu
Mempraktekn ilmu pa mario teguh yg td mlm.
Subhanallah,.11 menit yang lalu melalui Web Seluler · Suka · Komentari


Nur Faqoh menyukai ini.






Bi Ta
what i supposed to do ? (day of deathly the electeric's office)12 menit yang lalu melalui Web Seluler · Suka · Komentari


Mas Tri menyukai ini.


Bachtiar Rivai fb an
12 menit yang lalu · Suka






Tutik Salsabila
Alhamdulillah...telah lahir putra pertama kami; Sabtu, 29 Januari 2011 jam 15.00 WIB; Mohon doanya smga mjd anak yang sholeh dan penyejuk hati. (Tutik & Ardi)14 menit yang lalu melalui Ovi by Nokia

Renungan Zulfa Alhamdulillah barakallah mb, semoga menjadi keluarga Ϋά̲̣̥ηġ diberkahi oleh Allah dengan hadirnya jundi di tengah2 keluarga
11 menit yang lalu

Sagita Bukan Lina Selamat ya say...semoga menjadi anak yang berguna bagi keluarga, bangsa, negara dan agama...amin...
8 menit yang lalu

tabloid kita

DALAM jargon iklan, dialog film, hingga di kehidupan nyata, sering kita mendengar kalimat “ibu tahu yang terbaik”.


Bisa diucapkan ibu yang bersangkutan kepada anaknya atau pihak lain dengan maksud menegaskan posisi ibu sebagai pihak yang wajib didengarkan pendapat juga nasihatnya oleh anak.

Hingga membudayanya, psikolog Darjanti Kalpita R memiliki analisisnya.

“Sepertinya, penekanan ‘ibu’ di sini karena masih banyak orang beranggapan bahwa yang banyak menjalankan peran pengasuhan anak adalah ibu. Sementara ayah lebih dominan berperan sebagai pencari nafkah,” buka Darjanti.

“Selain itu, banyak ibu yang merasa lebih tahu tentang anaknya daripada ayah karena ibulah yang mengandung, melahirkan, mengasuh, dan mendidik anak-anaknya,” imbuh pemilik biro psikologi Performa, Bogor.

Benarkah ibu selalu tahu yang terbaik?
Sebenarnya tidak selalu demikian. Banyak faktor yang memengaruhi seberapa besar ibu tahu kebutuhan anak-anaknya. Darjanti menyebut salah satu faktor yang penting, kualitas komunikasi antara ibu dan anak-anaknya.

“Lagi pula, peran pengasuhan anak yang hanya dilakukan oleh ibu adalah paradigma lama. Pola pengasuhan anak yang sesuai untuk situasi dan kondisi saat ini adalah ayah dan ibu menjadi satu tim yang tidak terpisahkan dalam mengasuh anak-anaknya,” papar Darjanti.

Bukan berarti ayah harus setiap hari juga berada di rumah untuk mengurus anak, sehingga mengabaikan tugas mencari nafkah. Setiap keluarga tidak bisa menerapkan sama persis bagaimana dan seberapa besar peran ayah dalam pengasuhan anak.

Karena masing-masing keluarga memiliki situasi dan kondisi yang berbeda. Misalnya, bila ibu juga bekerja. Jadi pada dasarnya, baik ayah maupun ibu harus mengenali betul siapa anak-anaknya dan apa kebutuhan masing-masing anaknya.

“Walaupun dilahirkan lewat rahim yang sama, anak adalah manusia yang memiliki perbedaan secara individu bahkan anak kembar sekalipun,” sambungnya.

Memang ada hal-hal yang mana ibu tahu persis situasi dan kondisi yang sedang dialami anaknya. Karena seorang ibu juga pernah menjadi anak. Tapi tanpa disadari, justru ini yang sering dijadikan “senjata” oleh para ibu agar anaknya menurut.

Banyak ibu yang takut kehilangan wibawa atau kehilangan figur sebagai orang yang dihormati, bila gagal membuat anak menuruti kemauannya.

“Kesalahan yang biasanya dilakukan ibu adalah memiliki anggapan, situasi dan kondisi yang dialami anaknya sama persis yang dialaminya ketika seusia anaknya. Padahal bisa saja situasinya tidak persis sama, karena zamannya sudah berbeda. Lalu terburu-buru menyimpulkan tanpa bertanya atau mendengarkan penjelasan anak, dan gengsi untuk meminta maaf kepada anak sekalipun sadar telah salah,” perinci Darjanti.

Bila hubungan ibu-anak telanjur merenggang
Langkah awal yang harus dilakukan ketika hubungan telanjur merenggang adalah mengidentifikasi akar permasalahannya.

“Dalam hal ini, orangtua perlu melakukan introspeksi diri. Kebanyakan orangtua merasa sudah melakukan yang terbaik untuk anaknya, tapi ternyata apa yang diberikan bukan yang dibutuhkan anaknya. Misalnya anak yang berperilaku ‘kurang ajar’ terhadap orangtuanya. Mungkin saja karena orangtuanya selalu mencukupi kebutuhan anak dalam hal materi, tapi lupa mengajarkan nilai-nilai saling menghargai dan menghormati kepada anak,” urai Darjanti yang juga menangani kasus-kasus psikologi anak sekolah.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan orangtua, khususnya ibu, agar lebih mengetahui kebutuhan anak. Darjanti menyebutkan langkah-langkahnya sebagai berikut:
• Kenali diri sendiri
Bila tahu bagaimana kecenderungan Anda berperilaku di saat situasi yang tidak kondusif, Anda dapat mengantisipasi agar tidak semakin memperburuk situasi. Misalnya, bila Anda tahu bahwa reaksi marah dengan membentak anak cenderung Anda lakukan, Anda bisa lebih mengontrolnya.
• Cari informasi
Cari tahu tentang banyak hal yang berkaitan dengan anak Anda. Seperti siapa teman-temannya, apa yang biasa dilakukan mereka bersama di luar sekolah, tren anak-anak muda saat ini, dan lain-lain.
• Teruslah belajar
Jangan pernah berhenti mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan pengasuhan anak. Bagaimana cara berkomunikasi yang efektif, bagaimana mendekati anak yang tertutup, bagaimana memotivasi anak yang prestasi belajarnya menurun, dan lain-lain. Bahkan bila perlu, ibu belajar bahasa gaul agar memahami apa yang sedang menjadi bahan perbincangan anak dan teman-temannya.
• Jadi pendengar yang baik
Tahan diri untuk tidak terburu-buru menasihati, tanpa mendengarkan apa yang dipikirkan dan dirasakan anak. Dengan mendengarkan, Anda bisa menjalin dialog yang manis dengan anak.