Senin, 31 Januari 2011

Jakarta - Tayangan televisi memang sangat dibutuhkan untuk bisa melihat perkembangan yang terjadi di seluruh dunia ini tentunya lewat siaran beritanya. Namun kita akan muntah melihat tayangan infotainmen yang menjijikkan itu.

Tayangan hiburan di tanah ini memang sangat merebak. Kabarnya tayangan hiburan seperti sinetron atau tayangan perselingkuhan para artis dapat mendongkrak rating televisi dibanding siaran berita. Pemilik stasiun televisi tidak pedulikan dampak buruk dari tayangan yang selalu mengumbar kebohongan dan mengajari anak bangsa ini untuk berkhayal atas karya Rab Pun Jabi dan sehabitatnya.

Tayangan hiburan seakan sudah melabrak sejumlah aturan sosial yang berlaku bagi kita masyarakat Timur. Tidak sedikit, kisah sinetron kadang menampil cerita asmara yang tidak mendidik. Kisah seorang wanita hamil sebelum nikah, seakan dianggap hal yang biasa. Padahal satu sisi, sampai sekarang ini, anak lahir di luar nikah masih dianggap aib bagi kalangan masyarakat Indonesia.

Atau kita juga masih disuguhi dagelan lawakan picisan yang dimainkan para artis. Masih saja, lawakan itu dianggap lucu kalau berbicaranya mengarah ke selangkangan. Padahal melawak bukan harus berbicara seksual atau ungkapan yang menyerempet dalam bahasa yang tak senonoh. Tidak sedikit kita disuguni dagelan porno yang dianggap
menggelikan.

Dagelan kalimat 'kotor' kadang membuat kita gelisah untuk melihatnya. Apa lagi di sekeliling kita ada keluarga yang ikut bersama menonton. Kadang kita terpaksa pura-pura mengalihkan perhatian karena di sebelah ada orangtua, atau mertua kita, atau anak-anak kita.

Sebenarnya sudah banyak masyarakat melakukan aksi protes atas tayangan yang dianggap tidak lagi mematuhi tata krama di republik ini. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) pun tidak berdaya melihat tayangan hiburan yang tidak mendidik itu.

Satu sisi ketika KPI memberikan teguran terhadap siaran infotainmen tadi, dengan mudahnya pemilik siaran mengganti nama program tersebut. Padahal maksud dari teguran itu agar tayangan dapat mengubah tampilan yang lebih elegan dan pantas untuk ditonton semua kalangan. Tapi konyolnya, si pemilik siaran dengan mudah merubah nama programnya. Misalkan, Empat Mata digani nama Bukan Empat Mata. Ini contoh kecil betapa ngeyelnya pemilik siaran itu.

Ada juga jenis hiburan yang disebut-sebut mengarah ke religi. Tayangan itu juga menampilkan sosok seorang ustadz yang bertugas untuk menobatkan seseorang dari jalan yang sesat. Tapi tetap saja tayangan ini justru menyesatkan masyarakat. Tayangan itu hanya bohong-bohongan yang penuh skenariokan sedemikian rupa. Yang kita kesalkan, mengapa sosok seorang ustadz harus terlibat dalam kebohongan publik itu?

Di sinilah kita meminta tanggung jawab moral pemilik televisi di Tanah Air kita. Jangan hanya mengejar rupiah lantas semuanya harus dihalalkan walau melabrak tatanan sosial kehidupan kita.

selamatkan mimpi mereka

Oleh-Oleh liburan: Mereka Calon Orang-Orang Hebat

Jika dalam dua tulisan sebelumnya aku menceritakan tentang orang-orang hebat yang berusia senja, kali ini aku akan bercerita tentang calon-calon orang hebat. Tentu tidak berlebihan jika aku katakan bahwa setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi orang berguna, menjadi orang-orang hebat meski mungkin mereka sendiri tidak merasa hebat. Mimpi bagi mereka mungkin juga terasa mahal karena badan yang lelah setelah seharian bekerja tidak lagi menyisakan ruang untuk berangan, seringnya asal ada yang dimakan, anak-anak kenyang. Harga yang kian melambung tinggi juga menghalangi impian bahkan untuk sekedar dibayangkan. Tapi sekali lagi jika berandai-andai tentu yang terbaik yang diinginkan.

Sang teman membawaku keliling desa dengan sepeda motornya, melewati hamparan sawah, jalan yang menanjak menuju perbukitan, menembus hutan pinus. Panas matahari tak terlalu dihiraukan karena hawa dingin mampu menyegarkan. Memuaskan mata memandangi dedauan yang menghijau sejauh mata memandang. Tanya rasanya seperti apa, menyenangkan. Tapi sebuah cerita selalu bermata dua, bukan disengaja karena seperti juga mata uang entah demi sebuah keseimbangan atau apapun namanya, sisi yang sebelumnya kugambarkan begitu menyenangkan ternyata juga menampilkan kengerian.

Ini tentang calon-calon orang hebat yang lahir dari rahim ibu-ibu hebat, besar dari tangan-tangan kuat bapak-bapak hebat. Miris adalah perasaan yang muncul melihat calon orang-orang hebat ini. Mereka masih muda, ah katakan saja belia karena dari raut mereka menunjukkan usia yang masih belasan tahun saja. Di sepanjang hutan pinus yang kulalui bersama sang teman, di hampir setiap belokannya kulihat muda-mudi bercinta. Tak kulihat rasa malu atau risih di wajah mereka ketika kami atau orang lain lewat di hadapan mereka. Yang lebih memprihatinkan beberapa dari mereka masih memakai seragam sekolah. Dari cerita sang teman tempat ini juga biasa digunakan para pemuda usia sekolah ini untuk bolos dan berpesta miras.

Melihat mereka hati ini terasa sakit, teringat adik-adik di kampung yang sebaya dengan mereka. Kekhawatiran muncul hanya karena membayangkan wajah yang kulihat itu bisa jadi adik kita, anak kita, para calon orang-orang hebat di negeri ini. Sang teman bercerita jika mereka-mereka ini kebanyakan adalah anak dari orang-orang hebat yang kuceritakan sebelumnya, yang untuk mencari sesuap nasi saja harus berjalan puluhan kilometer, mendahului pagi demi sekian lembar ribuan untuk dapur agar tetap mengepul. Pendidikan gratis, entahlah, yang aku tahu semua masih sama bahkan semakin mahal dan melihat mereka seperti ini bagaimana rasanya?

Berhenti di sebuah warung yang masih milik saudara sang teman, kami melihat calon orang-orang hebat ini bergaul. Seorang anak laki-laki, mungkin sekitar empat belas tahun umurnya, tampak bersenda gurau bersama dua teman perempuannya yang kurang lebih berumur sama. Dengan gitar di tangan dan genjrengan tanpa nada keluar mengiringi percakapan yang sepertinya begitu mereka nikmati. Tato di kakinya cukup besar, jangan salah sangka aku bukan bermaksud mengatakan bahwa orang bertato atau tato itu sendiri tidak baik meski aku tahu dalam ajaranku memang tidak diperbolehkan tapi yang menjadi pemikiranku adalah dia masih belia. Usia yang masih labil untuk sesuatu yang kurasa butuh pemikiran yang mendalam untuk dilakukan.

Penampilan dua teman perempuannya juga membuatku trenyuh. Di warung, pinggir jalan, yang sering menjadi tempat tongkrongan orang-orang dewasa mereka memakai celana yang begitu pendek, tak perlu melirik mata siapapun akan leluasa melihatnya. Dering handphone dan cerita tentang teman laki-laki yang sedang dikenalkan, diajak berkenalan juga menambah sesak hati ini. Begitu beraninya mereka berinteraksi dengan orang yang bahkan belum mereka kenal. Aku jadi teringat cerita tentang seorang adik yang diajak bertemu oleh orang asing di stasiun, orang asing yang baru dikenalnya dari sms sok nyasar. Yang seperti ini apakah bentuk keluguan atau emosi sesaat akan sebuah rasa penasaran? Entahlah. Sedang yang kusaksikan di televisi banyak yang menjadi korban penculikan dan kejahatan lainnya.

Melihat mereka bagaimana aku harus merasa sedang sebelumnya aku menjumpai para orang tua yang begitu gigih bekerja, membiayai pendidikan demi masa depan mereka? Bermacam pertanyaan muncul di kepalaku. Mampukah orang-orang hebat itu memeluk bangga anak-anak mereka? Akankah keringat mereka terbayar dengan senyum kebanggaan bahwa mereka telah melahirkan, membesarkan calon orang-orang hebat juga? Apa cita-cita begitu mustahil sehingga disingkirkan saja? Asal ada handphone, sepeda motor dan cukuplah hidup mereka? Tak inginkah mereka menjadi orang-orang hebat?

Usia seperti mereka memang rawan, teringat masa sepuluh atau belasan tahun lalu ketika aku juga harus berjuang mengendalikan darah muda yang bergolak-kurasa juga sampai sekarang. Sering mengantuk di dalam kelas karena Pak Guru yang lebih seperti orang mendongeng daripada mengajar membuat mataku yang dipaksa bangun pagi-pagi untuk mengejar bus agar tidak terlambat terasa semakin berat. Mendengar, mencatat, mengerjakan soal bukan hal yang kusukai, sungguh membosankan memang. Bercanda dengan temanlah yang akhirnya dilakukan demi menjaga mata tetap terjaga. Lari bukan tidak pernah terpikirkan tapi juga dilakukan dan cap hitam pun ditorehkan di dahi. Kalau bukan karena teringat bunda yang mendahului kokok ayam dan berteriak setiap pagi membangunkan calon orang hebatnya, sekolah adalah hal yang tidak akan pernah kulakukan.

Godaan untuk nongkrong sepulang sekolah, melanjutkan canda dengan teman juga bukan hal yang mudah untuk ditaklukkan. Dibilang “nggak asyik” adalah hal yang paling menyeramkan untuk usia rawan itu. Dan rayuan teman akan bertarung dengan wajah bunda yang terngiang-ngiang di kepala. Betapa sedihnya jika dia tahu anaknya tak benar-benar belajar, mencari ilmu, dan memilih menghabiskan waktu untuk obrolan dan kegiatan yang memang sangat menggoda. Dan wajah bunda menunjukkan kuasanya, mungkin juga doanya. Pulang untuk kemudian melakukan rutinitas yang sama setiap harinya dan cerita tentang masa sekolah yang tak semuanya indah pun mengalir, meninggalkan kenangan yang menyisakan senyum dan tawa setiap mengingatnya.

Lalu bagaimana dengan mereka, para calon orang-orang hebat itu? Tak akan kubilang semuanya seperti itu karena masih kudengar dan kubaca cerita tentang mereka yang berhasil menorehkan prestasi meski apa yang kulihat dari liburan kemarin juga menunjukkan jumlah yang mengkhawatirkan. Mereka calon-calon orang hebat yang nanti akan mengendalikan negeri ini. Mereka yang nantinya akan memimpin dan membawa negeri ini, kemana pun arahnya. Siapa yang bertanggungjawab atas mereka? Tentunya kita semua karena pada mereka nanti kita akan menyerahkan kemudi negeri ini, kepada sebuah kehancuran atau kejayaan? Selamatkan mimpi orang-orang hebat yang ingin anaknya menjadi orang hebat. Selamatkan calon orang-orang hebat ini, selamatkan mimpi mereka, mimpi tentang negeri yang tidak hanya suka memberi janji tapi memberi ruang untuk mimpi-mimpi mereka menjadi kenyataan. Karena mereka calon orang-orang hebat!
Cicitan Benny Israel Bocorkan Rahasia Negara
Kamis, 27 Januari 2011 14:53 WIB 4 Komentar 9 0
Penulis : Donny Andhika

CETAK

KIRIM

FACEBOOK

Buzz up!
SIAPAKAH Benny Israel? Lewat cicitan akun @benny_israel di Twitter ia menyentil tentang berbagai kasus serta sepak terjang para pejabat di negeri ini. Lewat twitter juga ia membocorkan banyak rahasia negara, seperti yang dilakukan Julian Assange, si pendiri WikiLeaks.

Dalam beberapa pekan terakhir, akun @benny_israel menggemparkan dunia maya lewat cicitannya tentang berbagai isu sensitif di negeri ini. Ia bahkan mengeluarkan serial cicitan tentang intelijen negara.

Akun ini sendiri mulai aktif semenjak 14 November 2010 lalu. Hingga kini, pengikutnya tidak kurang dari 15 ribu akun dan terus bertambah.

Sejumlah nama mantan petinggi TNI seperti Sujono Humardani, Ali Moertopo, Soedomo, dan Benny Moerdani ia sebut dalam cicitannya. Bahkan ia saling bercicit dengan Febridiansyah, peneliti ICW (Indonesia Corruption Watch), @febridiansyah mengenai sebuah kasus secara terbuka.

Akun twitter @budimansudjatmiko yang disinyalir milik anggota DPR RI dari PDIP juga tampak aktif dengannya. "RT @budimandjatmiko: Juara! Kpn2 kita minum teh di HydePark:) RT @benny_israel: The Circle. Kata orang Malaysia itu ..."

Beberapa pengikutnya saat ini menjadikan akun twitter @benny_israel ini sebagai tempat bertanya. Seperti akun @debapirez yang bertanya, "Meneg BUMN akan mengganti 12 Komisaris BUMN. any comment?" Akun misterius tersebut lantas menjawab, " Rezim baru pasukan baru. MY ganti orang2nya SD."

Ia juga bercicit hal sensitif yang membuka tabir intelijen. "Orang2 pd sisi intelijen militer sedikit 'brutal' kalau ada hal yg menyinggung mereka. Nyawa gak ada harganya buat mereka," ujar Benny dalam akunnya.

Lebih dari 4.895 cicitan ia kemukakan ke publik di dunia maya. Setiap harinya, ia menjawab hampir seluruh pertanyaan pengikutnya dari pagi hingga pagi lagi.

Jawaban lugas, baik tentang kasus Antasari Azhar, mantan ketua KPK, maupun tentang kebenaran pernyataan Gayus Tambunan setelah vonis, terlontar dalam akun tersebut.

Andi Arief lewat akun @AndiAriefNews yang sebelumnya mengklaim mengetahui identitas misterius ini bahkan tidak berani menjawab tantangan secara terbuka. Namun beberapa pihak mencurigainya sebagai salah satu aktivis internet chat saat kejadian Mei 98 karena gaya bahasanya yang mirip, seperti yang diungkapkan aku

maaf

Oleh Muhammad Abbas Aula ***

Rasulullah SAW tampak keheranan mendengar pengakuan tulus Ma'iz bin Malik. Sadarkah Ma'iz bahwa pengakuannya berakibat dijatuhi hukuman mati? Karena itu, Rasulullah bertanya, apakah orang ini sedang mengalami gangguan kejiwaan. "Ia tidak gila!" jawab sahabat yang hadir.

Namun, Rasulullah SAW masih juga meragukan ketulusannya. Beliaupun menyuruh salah seorang di antara yang hadir untuk mencium aroma tubuhnya. Jangan-jangan ada bau minuman keras, bisa diduga laki-laki ini sedang mabuk berat. Juga tak tercium sedikit pun bau minuman keras di tubuhnya. Untuk lebih meyakinkan, Rasulullah SAW bertanya langsung kepadanya, apakah betul Anda berzina. "Ya," jawab Ma'iz, seraya mendesak agar segera dibersihkan dirinya dari dosa zina. Dia siap menjalani hukuman rajam.

Kasus serupa terjadi pada diri wanita Ghamidiyah asal lembah Juhainah. Di hadapan Rasulullah SAW ia mengaku hamil hasil zina, dan memohon agar dijatuhi hukuman rajam seperti terjadi pada Ma'iz. Rasulullah SAW menganjurkan agar ia segera bertaubat kepada Allah, sambil menunggu lahir bayi yang di kandungnya.
Wanita itu kembali melaporkan diri setelah bayinya lahir, dan mendesak agar segera menjalani eksekusi. Rasulullah SAW masih juga menyuruhnya pulang dan memberinya kesempatan untuk menyusui sampai anaknya bisa disapih.

Wanita malang ini datang kembali sambil menggendong anaknya, di tangannya ada sepotong roti sebagai tanda bahwa sang anak benar-benar sudah disapih.

Kesempatan ini mestinya dapat dimanfaatkan oleh Ghamidiyah untuk melarikan diri. Rasulullah pun tidak akan menyuruh para sahabat mencari wanita itu, atau memasukkannya dalam daftar buronan jika benar bahwa setelah anaknya disapih ternyata ia tidak melaporkan diri. Tampaknya Rasulullah SAW sangat memahami bahwa wanita ini sungguh-sungguh bertaubat dan tidak akan mengulangi perbuatannya.

Ma'iz dan Ghamidiyah adalah sosok dua anak manusia langka di zaman sekarang ini. Keduanya datang melaporkan diri, mengakui kesalahannya, lalu minta dihukum dengan hukuman paling berat yang merenggut nyawa.

Keduanya seperti tidak yakin bahwa taubatnya diterima oleh Allah, jika hanya dengan lantunan doa dan istighfar, tanpa menjalani hukuman rajam. Keduanya memilih hukuman di dunia walaupun teramat berat, daripada di akhirat nanti dihukum dengan hukuman yang lebih dahsyat. Usai eksekusi para sahabat masih memperdebatkan, apakah taubatnya diterima oleh Allah atau tidak? Bahkan Umar bin Khattab mempertanyakan, apa layak menshalatkan jenazah orang yang berbuat dosa zina seperti ini?
"Sungguh Allah telah menerima taubatnya. Bila taubatnya dibagikan kepada seluruh umat ini, niscaya taubatnya masih tersisa," ujar Rasulullah SAW meyakinkan. (HR Muslim No 1695).

Perubahan drastis bisa terjadi pada diri seorang Muslim, manakala keyakinan akan adanya kehidupan di hari akhirat, meresap ke lubuk hati yang paling dalam. Wallahu a'lam. (Dimuat di Republika)

kata kata

602
Share

0
digg




Ilustrasi (montlakeschool.org)

dakwatuna.com – “Sesungguhnya ada beberapa orang munafik yang mengira Rasulullah telah wafat!” Lelaki itu berkata dengan suara keras, “Padahal sesungguhnya Rasulullah itu tidak akan mati! Dia hanya pergi menemui Tuhannya, sebagaimana Nabi Musa bin Imran pergi kepadaNya. Ia pergi meninggalkan kaumnya selama empat puluh hari. Kemudian dia kembali kepada mereka setelah sebelumnya dikabarkan mati.”

“Demi Allah,” lanjutnya kepada orang-orang di depan masjid, “Rasulullah benar-benar akan kembali seperti yang telah dilakukan Musa. Lalu dia akan memotong kedua tangan dan kaki orang-orang yang telah mengira Rasulullah telah mati!”

Wahai Tuan dan Nyonya, siapa tidak mengenal lelaki bertubuh besar, tinggi, tegap, tegas, keras, dan botak ini. Dia adalah Umar bin Khathab. Seorang sahabat Rasulullah yang paling berani menghadapi kaum musyrikin. Seorang yang bashirah-nya mampu mendahului turunnya beberapa ayat Al Qur’an. Yang rasio dan daya pikirnya melebihi orang-orang yang berada di sekitarnya. Seorang mukmin yang sangat mampu membedakan yang hak dan yang bathil. Manusia yang ditakuti oleh syaithan di lorong-lorong kota Madinah. Seorang pencinta sejati yang mampu memper-kerja-kan cintanya, dari prioritas mencintai diri sendiri ke cinta utamanya pada Rasulullah. Dalam sejekap. Hanya sekejap saja mengubah arah cintanya kepada Rasulullah.

Umar hari itu sepertinya langit Madinah, benar-benar mendung bersama kabar kematian Rasulullah. Kabar itu seakan-akan petir di tengah musim kemarau. Mematahkan kesadaran para sahabat terhadap realita hidup. Seakan baru kemarin Rasulullah datang berhijrah ke kota itu. Masih terbayang di mata orang-orang Anshar tatkala Rasulullah di pasca Perang Bani Tsaqif berkata lembut, “Hai sekalian kaum Anshar, tidakkah kalian senang jika orang-orang itu pergi membawa kambing dan unta, sedangkan kamu sekalian pulang ke rumahmu membawa Rasulullah?”

Dan lelaki tua yang lain, yang hatinya begitu lembut. Yang biasa menangis di dalam shalat-shalatnya. Datang begitu mendengar apa yang tidak ingin didengarnya itu. Maka, ia pun masuk ke bilik putrinya di deretan bilik cinta itu. Sejurus kemudian ia keluar setelah yakin dengan kabar yang didengarnya. Dan masih didapatinya Umar bin Khathab masih saja berbicara keras dengan orang-orang di dalam masjid yang terhubung langsung dengan bilik-bilik itu.

“Duduklah, wahai Umar…!” pinta lelaki tua itu kepada Umar. Lembut saja.

Umar yang keras kepala itu tetap saja berbicara di depan orang-orang. Ia tidak mau mendengarkan permintaan lelaki tua itu, Abu Bakar. Umar tidak mau duduk. Sepertinya ia sangat terpukul dengan kematian sang kekasih.

Mendapati Umar terus saja berbicara seperti itu, Abu Bakar membaca kalimat syahadat. Orang-orang pun seakan tersadar. Orang-orang mulai datang mengerumuninya. Mereka meninggalkan Umar yang terus-terusan berbicara.

“Barangsiapa di antara kalian yang menyembah Muhammad,” kata Abu Bakar, “Maka, sesungguhnya beliau telah mati. Dan barangsiapa menyembah Allah, sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tidak akan mati.”

“Muhammad itu,” kata Abu Bakar membaca firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 144, “Tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Maka, orang-orang seperti dibangunkan dari mimpinya mendengar ayat itu. Padahal mereka sangat tahu tentang ayat itu. Namun, rasanya hari ini mendung di langit hati mereka telah menutupi cahaya ayat itu dan menghilangkan kesadaran mereka pada kenyataan. Ibnu Abbas dan Abu Hurairah mengatakan bahwa para sahabat seolah-olah benar-benar belum tahu bahwa ayat itu pernah turun hingga dibacakan oleh Abu Bakar itu, lalu orang mengambilnya dari Abu Bakar, padahal ayat itu telah biasa mereka ucapkan.

“Demi Allah!” kata Umar bin Khathab sebagaimana dinukil Ibnul Musayyab dalam Shahih Bukhari, “Tidaklah aku mendengar Abu Bakar membacanya , kecuali aku tercengang hingga kedua kakiku tak mampu lagi menyanggaku. Kemudian aku terjatuh ke tanah pada saat ia membacanya, pada saat itu aku baru menyadari bahwa Rasulullah telah wafat.”

Padahal Umar dan para sahabat masih ingat betul bagaimana kesusahan mereka tatkala di Perang Uhud mereka mendengar kabar kematian Rasulullah yang dihembuskan kaum musyrikin. Pasukan muslimin pun gentar ditinggal mati oleh Rasulullah. Adalah Tsabit bin Ad Dahdah yang menyeru kaum muslimin kala kegentingan itu terjadi. Ia mengingatkan bahwa kematian Rasulullah adalah keniscayaan, dan menghadapinya dengan kebesaran jiwa adalah pilihan.

“Wahai kaum Anshar!” ia berteriak lantang sebagaimana dicatat dalam As Sirah Al Halabiyah, “Jika Muhammad telah terbunuh, maka sesungguhnya Allah itu hidup dan tidak mati. Berperanglah demi agama kalian karena sesungguhnya Allah akan memenangkan dan menolong kalian!”

Maka, mendengar seruan itu, sejumlah sahabat pun maju menyerang pasukan Khalid bin Walid. Ah, mereka semua mendahului kita menjemput syahid di mulut pedang dan tombak pasukan Khalid.

Maka beruntunglah ummat ini memiliki Abu Bakar dan Tsabit bin Ad Dahdah. Mereka menjadi corong kata-kata dan kesadaran atas sebuah peristiwa. Adalah Umar dan para sahabat yang merupakan manusia-manusia pilihan. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui apa-apa yang terjadi dengan turunnya ayat-ayat Al Qur’an. Namun, hari-hari mendung adalah hari-hari yang sendu dan sedih. Ada tekanan berat di dada mereka hingga apa-apa yang seharusnya ada di dalam diri mereka menjelma menjadi kekerdilan.

Saya pun yakin Tuan dan Nyonya adalah orang-orang luar biasa dengan kedalaman dan keluasan ilmu laksana segara India. Dan dengan kedalaman dan keluasan itu, sebenarnya Tuan dan Nyonya menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa pilihan hidup dalam menghadapi kesusahan dan kejadian hanya dua: sabar dan syukur. Tuan dan Nyonya pasti sudah hapal di luar kepala. Dan seharusnya, idealnya, Tuan dan Nyonya tahu cara berdiri sendiri tatkala badai cobaan dan musibah datang menggulung optimisme dan pandangan realistis yang ada. Tuan dan Nyonya seharusnya tahu cara menghibur diri sendiri dan membangkitkan semangat di dalam jiwa. Sebenarnya Tuan dan Nyonya sudah tahu, seperti Umar dan sahabat-sahabat Rasulullah yang lain.

Namun, kadangkala Tuan dan Nyonya membutuhkan orang lain untuk mengatakan apa yang sudah Tuan dan Nyonya ketahui itu. Kita membutuhkan seseorang yang mengatakan kata-kata yang sudah kita tahu. Seperti kata, “Bersabarlah…” atau “Jangan menangis..” atau “Allah selalu memberikan takdir terbaik bagi manusia…” atau “Saya harus melanjutkan hidup saya. Begitu juga Anda..” Kita sudah tahu dan hapal kata-kata ini, bahkan mungkin sangat hapal. Namun, kita kadang membutuhkan orang lain mengatakan itu kepada kita.

Atau jika Tuan tidak suka berkata-kata, Tuan bisa memilih kata tanpa kata. Sebuah pelukan hangat yang bersahaja dari seseorang yang mencinta Anda. Satu pelukan tanpa kata. Hanya cinta dari seseorang yang saling bersaudara. Saat itu, bolehlah Tuan berair mata bahagia. Atau sekadar mengentaskan kita dari duka lara dan derita, dan mengembalikan kita ke alam sadar jaga.

tawadu

Alkisah, Jablah bin Aiham, raja dari Kerajaan Gassanah melakukan perjalanan ke Madinah. Menurut para sejarawan, ia datang bersama rombongan ke kota suci kedua bagi umat Islam itu untuk masuk Islam. Begitu sampai di Madinah, rombongan itu diterima dengan penuh suka cita oleh Khalifah Umar bin Khathab.

Saat musim haji tiba, Jablah menunaikan haji bersama Umar. Saat ber-tawaf, sarung raja Gassanah itu terinjak hingga terlepas. Jablah pun murka dan memukul lelaki yang menginjak sarungnya hingga berdarah. Pria yang berasal dari suku Fuzarah itu mengadu kepada Umar.

"Mengapa kamu memukul lelaki ini?" tanya Umar. "Dia telah menginjak sarungku hingga terlepas," jawab Jablah. Umar berkata, "Bukankah kamu telah menyatakan masuk Islam? Sebagai balasannya, kamu harus berusaha membuatnya rela atau dia melakukan tindakan seperti tindakan yang telah kamu lakukan terhadapnya."

Dengan penuh kesombongan, Jablah berkat, "Apakah hal ini pantas aku lakukan! Aku adalah raja, sedangkan dia adalah rakyat jelata." Umar dengan tegas berseru, "Islam memandang sama antara dirimu (raja) dan dirinya (rakyat jelata). Tidak ada hal yang membuatmu memiliki derajat lebih tinggi daripada dia, selain amal kebaikan."

"Demi Allah, aku masuk Islam dan berharap dapat menjadi lebih mulia daripada masa jahiliah."

Umar berkata, "Kamu akan seperti itu." Jablah berkata, "Tangguhkanlah aku sampai besok agar aku dapat berpikir tentang hal ini, wahai Amirul Mukminin." Umar berkata, "Silakan."

Namun pada malam hari, Jablah dan rombongannya malah melarikan diri hingga sampai di Konstantinopel dan bertemu dengan Heraklius. Ia tak mau bersikap tawadhu dan memilih keluar dari ajaran Islam yang mengajarkan persamaan derajat.

Kisah yang tercantum dalam Sirah Umar bin al-Khaththab karya Ahmad at-Taji itu mengandung pesan bahwa Islam mengajarkan sikap tawadhu seperti dicontohkan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.

Tawadhu adalah sikap tunduk kepada Allah dan rendah hati serta sayang terhadap hamba-Nya. Insan yang tawadhu adalah hamba-hamba Allah yang yang berjalan di bumi dengan rendah hati.
(QS Al-Furqan [25]:63).

Orang yang tawadhu adalah mereka yang tak pernah sombong dan bersikap angkuh serta tak pernah menyombongkan diri. Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi dengan angkuh.

Sungguh Allah tak menyukai orangorang yang sombong dan membanggakan diri." (QS asy-Syu'ara [31]:18). Sesunguhnya, orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. (QS Al-Hujurat [49]:13).

Mudah-mudahan bangsa ini dapat mengembangkan budaya tawadhu, antara pejabat dan rakyat, rakyat dengan rakyat, sehingga tumbuh menjadi bangsa kuat yang ditopang oleh budaya kebersamaan dan saling menghormati.
Red: Siwi Tri Puji B

kepemimpinan

Ciri Orang Besar Memulai Perubahan
Artikel Lepas
28/1/2011 | 22 Shafar 1432 H | Hits: 3.342
Oleh: Fitria Meysti Sari

749
Share

0
digg
1



Ilustrasi - (wordpress.com/stanvaganza)

dakwatuna.com – Pagi yang indah selalu dihadirkan Allah SWT untuk kita yang memiliki keterpautan hati dan bisa merasakan betapa besar Cinta-Nya pada hambanya. Mata yang masih bisa melihat Keindahan itu, udara yang masih bisa kita hirup, aliran darah dan denyut nadi yang masih bisa kita rasakan, menunjukkan jika kita masih diberi eksistensi oleh-Nya. Rasulullah SAW yang melihat umatnya dari syurga Firdaus-Nya, mendoakan kita yang tak kenal letih memperjuangkan risalah dakwah untuk kejayaan Islam di Bumi Allah ini. Semoga kelak kita semua dikumpulkan bersama Baginda Rasul dan para keluarga serta sahabat.

Terkadang kita ini terlalu banyak menggunakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk sesuatu di luar diri kita. Juga terlalu banyak energi dan potensi kita untuk memikirkan selain diri kita, baik itu merupakan kesalahan, keburukan, maupun kelalaian. Namun ternyata sikap kita yang kita anggap kebaikan itu tidak efektif untuk memperbaiki yang kita anggap salah. Banyak orang yang menginginkan orang lain berubah, tapi ternyata yang diinginkannya itu tak kunjung terwujud. Kita sering melihat orang yang menginginkan Indonesia berubah. Tapi, pada saat yang sama, ternyata keluarganya ‘babak belur’, di kampus tak disukai, di lingkungan masyarakat tak bermanfaat. Itu namanya terlampau muluk.

Jangankan mengubah Indonesia, mengubah keluarga sendiri saja tidak mampu. Banyak yang menginginkan situasi negara berubah, tapi kenapa merubah sikap adik saja tidak sanggup. Jawabnya adalah: kita tidak pernah punya waktu yang memadai untuk bersungguh-sungguh mengubah diri sendiri. Tentu saja, jawaban ini tidak mutlak benar. Tapi jawaban ini perlu diingat baik-baik. Siapa pun yang bercita-cita besar, rahasianya adalah perubahan diri sendiri. Ingin mengubah Indonesia, caranya adalah ubah saja diri sendiri. Betapapun kuatnya keinginan kita untuk mengubah orang lain, tapi kalau tidak dimulai dari diri sendiri, semua itu menjadi hampa. Setiap keinginan mengubah hanya akan menjadi bahan tertawaan kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Orang di sekitar kita akan menyaksikan kesesuaian ucapan dengan tindakan kita.

Boleh jadi orang yang banyak memikirkan diri sendiri itu dinilai egois. Pandangan itu ada benarnya jika kita memikirkan diri sendiri lalu hasilnya juga hanya untuk diri sendiri. Tapi yang dimaksud di sini adalah memikirkan diri sendiri, justru sebagai upaya sadar dan sungguh-sungguh untuk memperbaiki yang lebih luas. Perumpamaan yang lebih jelas untuk pandangan ini adalah seperti kita membangun pondasi untuk membuat rumah. Apalah artinya kita memikirkan dinding, memikirkan genteng, memikirkan tiang yang kokoh, akan tetapi pondasinya tidak pernah kita bangun. Jadi yang merupakan titik kelemahan manusia adalah lemahnya kesungguhan untuk mengubah dirinya, yang diawali dengan keberanian melihat kekurangan diri.

Pemimpin mana pun bakal jatuh terhina manakala tidak punya keberanian mengubah dirinya. Orang sukses mana pun bakal rubuh kalau dia tidak punya keberanian untuk mengubah dirinya. Kata kuncinya adalah keberanian. Berani mengejek itu gampang, berani menghujat itu mudah, tapi, tidak sembarang orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri. Ini hanya milik orang-orang yang sukses sejati. Orang yang berani membuka kekurangan orang lain, itu biasa. Orang yang berani membincangkan orang lain, itu tidak istimewa. Sebab itu bisa dilakukan oleh orang yang tidak punya apa-apa sekali pun. Tapi, kalau ada orang yang berani melihat kekurangan diri sendiri, bertanya tentang kekurangan itu secara sistematis, lalu dia buat sistem untuk melihat kekurangan dirinya, inilah calon orang besar.

Mengubah diri dengan sadar, itu juga mengubah orang lain. Walaupun dia tidak berucap sepatah kata pun untuk perubahan itu, perbuatannya sudah menjadi ucapan yang sangat berarti bagi orang lain. Percayalah, kegigihan kita memperbaiki diri, akan membuat orang lain melihat dan merasakannya. Memang pengaruh dari kegigihan mengubah diri sendiri tidak akan spontan dirasakan. Tapi percayalah, itu akan membekas dalam benak orang. Makin lama, bekas itu akan membuat orang simpati dan terdorong untuk juga melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Ini akan terus berimbas, dan akhirnya semakin besar seperti bola salju. Perubahan bergulir semakin besar.

Jadi kalau ada orang yang bertanya tentang sulitnya mengubah keluarga, sulitnya mengubah anak, jawabannya dalam diri orang itu sendiri. Jangan dulu menyalahkan orang lain, ketika mereka tidak mau berubah. Kalau kita sebagai ustadz, atau kyai, jangan banyak menyalahkan santrinya. Tanya dulu diri sendiri. Kalau kita sebagai pemimpin, jangan banyak menyalahkan bawahannya, lihat dulu diri sendiri seperti apa. Kalau kita sebagai pemimpin negara, jangan banyak menyalahkan rakyatnya. Lebih baik para penyelenggara negara gigih memperbaiki diri sehingga bisa menjadi teladan. Insya Allah, walaupun tanpa banyak berkata, dia akan membuat perubahan cepat terasa, jika berani memperbaiki diri. Itu lebih baik dibanding banyak berkata, tapi tanpa keberanian menjadi suri teladan. Jangan terlalu banyak bicara. Lebih baik bersungguh-sungguh memperbaiki diri sendiri. Jadikan perkataan makin halus, sikap makin mulia, etos kerja makin sungguh-sungguh, ibadah kian tangguh. Ini akan disaksikan orang.

Membicarakan dalil itu suatu kebaikan. Tapi pembicaraan itu akan menjadi bumerang ketika perilaku kita tidak sesuai dengan dalil yang dibicarakan. Jauh lebih utama orang yang tidak berbicara dalil, tapi berbuat sesuai dalil. Walaupun tidak dikatakan, dirinya sudah menjadi bukti dalil tersebut. Mudah-mudahan, kita bisa menjadi orang yang sadar bahwa kesuksesan diawali dari keberanian melihat kekurangan diri sendiri. Jadi teringat kutipan kata bijak dari sebuah buku seperti ini:

Jadilah kau sedemikian kuat sehingga tidak ada yang dapat mengganggu kedamaian pikiranmu

Lihatlah sisi yang menyenangkan dari setiap hal

Senyumlah pada setiap orang

Gunakanlah waktumu sebanyak mungkin untuk meningkatkan kemampuanmu sehingga kau tak punya waktu lagi untuk mengkritik orang lain

Jadilah kau terlalu besar untuk khawatir dan terlalu mulia untuk meluapkan kemarahan

Satu-satunya tempat dimana kita dapat memperoleh keberhasilan tanpa kerja keras adalah hanya dalam kamus.

Di awal tahun, awal bulan dan awal minggu (Jum’at adalah awal minggu bagi umat Islam), ayo kita semua mulai memperbaiki diri. Suatu karya besar selalu diciptakan oleh orang-orang yang berfikir besar. Namun perubahan besar pasti dimulai dari satu langkah kecil, dan itu dimulai dari diri kita masing-masing.

Wallahualam bishowab